20120216

Nanti

Akan tiba waktunya kita tidak lagi bersama.
Kita, aku dan kamu, atau kita sebutan untuk dia dengan yang lain.
Tapi kesadaran itu usahlah mengusik keramahan hati kita masing-masing kini. Hati kita yang ramah, yang tak cepat marah. Hati kita yang ramah, yang kita tahu untuk apa kini kita menahan lelah.

Akan tiba waktunya kita tidak lagi bersama.
Yang kalau kubilang iya pun kamu tidak lagi mau. Yang kalau kubilang tidak pun kamu tidak lagi mau tahu. Hanya bercak-bercak memori yang dapat saling mengisi, bukan lagi bilah-bilah kedalaman yang tak terjangkau indrawi.

Menjadi berjarak bukan pilihan seperti kamu mau makan kentang atau nasi. Bukan pilihan seperti berbelanja beli yang itu atau yang ini. Menjadi berjarak tidak pernah ada dalam pilihan kita. Dalam pilihanku, setidaknya. Karena aku tidak pernah dengan sengaja ingin menjalani suatu yang sia-sia. Maka meramahkan hati ini sifatnya menjadi bukan sementara. Kesementaraan kita bukan suatu yang aku rencana-rencanakan.

Kesadaran akan kesementaraan ini adalah perwujudan rendah hati dariku untuk Dia Yang Paling Tidak Sementara.
Tapi kamu harus tahu bahwa jemari ini akan tetap bercelah untuk digenggam. Suara ini akan tetap harus ada yang mendengarkan.

Sekarang olehmu. Nanti mungkin oleh siapa, kupercaya pada Dia Yang Maha Menggenggam dan Mendengarkan.

0 comments: