20160429

Name few things that make you happy today.

Hari ini saya memutuskan untuk tidak pergi kemana-mana. Karena toh saya bisa mengerjakan apa yang harusnya saya kerjakan di kamar, bersama laptop dan koneksi internet yang kencang. Hanya saja ketika saya tidak kemana-mana, kebiasaan buruk saya akhir-akhir ini adalah lupa makan, atau mungkin ngirit? Tapi memang tidak terasa lapar, hingga akhirnya melihat jam dan sadar bahwa saya seharusnya makan beberapa jam yang lalu. Maka pada pukul tiga lebih, saya memutuskan untuk keluar dari sarang tempat saya bermukim.

Saya tahu, langit sudah mendung dan jemuran pun sudah saya pindahkan ke tempat yang beratap karena sedikit lagi akan hujan. Ini bulan April tapi hujan masih datang hampir setiap sore atau malam. Tapi karena saya hanya akan pergi ke warung terdekat, yang menjual bubur ayam, indomie, dan bubur kacang hijau, saya hanya membawa dompet dan hp. Bawa payung agaknya terlalu repot.

Selesai makan bubur ayam dengan satu sate ati ampela, saya pergi ke warung sebelah untuk membeli air mineral. Tepat ketika saya bayar, harganya empat ribu, tiba-tiba hujan turun. Awalnya tidak terlalu deras, tapi ketika saya sudah menerima uang kembalian dan siap untuk pulang, hujan turun semakin deras. Deras sekali hingga saya mengurungkan niat untuk menembusnya.

Saya berteduh di dalam warung yang bisa dibilang kecil dan sempit, bapak tukang warung menyilakan saya untuk berdiri agak ke dalam supaya tidak basah. Hujan turun amat deras, saya lihat tidak ada orang yang lalu-lalang samasekali, mungkin karena saat hujan terlalu deras, memakai payung pun seperti sia-sia sehingga semua orang memilih untuk menunggu reda.

Perasaan saya saat itu tidak kesal sama sekali. Saya malah ingin tertawa. Saya lupa kapan terakhir kali saya membiarkan diri saya untuk terjebak di situasi-situasi bodoh seperti ini.

Saya berdiri dan diam, mau main hp pun belum isi kuota internet. Sudah beberapa hari ini saya hanya mengandalkan wifi. Akhirnya saya hanya memandangi hujan yang turun begitu deras. Air mengalir ke tempat yang lebih rendah. Suara petir yang bergemuruh membuat saya bergidik. Takut.

Saya diam dan berpikir, apakah saya tembus saja hujan ini karena saya tahu hujan seperti ini biasanya tidak sebentar? Toh dekat saja, hanya beberapa ratus meter. Tapi saya ragu. Karena saya membawa hp. Karena saya baru saja keramas dan mandi.

Dalam hujan lebat itu, lewatlah seorang anak kecil bersepeda. Tanpa payung. Tanpa jas hujan. Dia hanya bersepeda dan tertawa-tawa. Awalnya saya pikir dia lagi main lalu kehujanan dan akan buru-buru pulang ke rumahnya. Tapi ternyata tidak, dia lewat lagi. Kali ini berhenti lalu menyimpan sepedanya di dekat warung tempat saya berdiri, lalu dia meringis bahagia ditengah hujan memanggil temannya satu lagi. Basah kuyup.

Timbul rasa di dalam diri saya. Saya iri. 

Kapan terakhir kali saya menikmati hujan sebagai anugerah dari Tuhan terhadap mahluk bumi? Saya tidak ingat. Yang saya tahu hujan hanya membuat macet, membuat saya menunda kepulangan jika masih ada di kantor, membuat saya menunda keluar rumah jika masih ada di rumah, membuat becek, mengotori sepatu.

Akhirnya saya mengambil keputusan. Iri tanda tak mampu. Siapa bilang saya tidak mampu menikmati hujan seperti anak itu menikmatinya? Saya masukan hp dan dompet saya ke dalam keresek air mineral, lalu saya tali. Saya gulung celana panjang saya sebetis agar tidak terlalu basah ketika menginjak kubangan.

Saya berjalan, ribuan butiran air dari langit membasahi ubun-ubun. Sambil berlari-lari kecil, saya menginjak kubangan air sehingga menambah basah baju saya, karena memang tidak ada pilihan, tidak ada jalan yang kering. Saya ingat saya tersenyum hampir tertawa. Tidak menyangka situasi bodoh seperti ini menjadi momen terbaik dalam beberapa bulan terakhir. Saya merasa bebas, naif, dan bahagia. Tidak ada suara yang saya dengar selain suara jatuhnya butiran air

Sampai di kamar ternyata saya tidak sebasah kuyup yang saya bayangkan. Hanya bagian kepala dan jaket jeans saya yang jadi agak berat karena basah, sisanya seperti hanya kecipratan sedikit. Saya simpan air mineral berisikan hp dan dompet dan berganti baju. Lucunya, tidak berapa lama dari saya berganti baju, hujan mengecil dan beberapa menit kemudian reda.

Tidak semua orang bisa mengambil kesenangan dari terjebak hujan di warung sempit. Saya seperti disadarkan kembali apa yang menjadi kekuatan saya. Yang selama ini telah lama saya lupakan. Yang selama ini malah saya kubur dalam-dalam.

Saya adalah penikmat momen. Saya tidak mudah dibuat tidak bahagia.

Dulu saya memiliki toleransi yang amat luas terkait dengan standar kebahagiaan. Yang entah kenapa makin kesini makin menyempit. Makin dibutakan dengan hal-hal banal.

Saya ingat saat SMA saya bahagia hanya dengan mengetik di komputer butut tengah malam, tidak ada internet, tidak punya apa-apa. Hanya saya dan malam. Begitu sederhana.

Hujan besar sore ini, terima kasih sudah mengingatkan.


No comments: