Where are the plans we made for two?
Jangan, jangan bilang tentang galau. Saya menyayangkan kata galau begitu jadi populer untuk digunakan. Populer sampai pada saatnya diasosiasikan dengan nilai negatif. Galau itu artinya apa? Jika diekspresikan dengan benar, semestinya galau diapresiasi dengan baik. Seorang yang galau dapat menghasilkan karya yang monumental. Saya pikir yang menciptakan lagu-lagu yang familiar kita dengar, musisi tersebut pada awalnya sesederhana sedang galau. Juga prosa-prosa yang kita baca, saya yakin banyak yang muncul berawal dari kegalauan. Seperti maroon 5, menciptakan lagu diatas yang saya kutip sedikit kalimatnya dipaling atas (dan juga dibawah ini).
Still stuck in the time when we called it love.
Selama ini selalu ada proses satu dan dua yang diyakini keduanya ada atau tidak ada samasekali, siang-malam, before-after, timbul-tenggelam. Pertemuan-perpisahan. Yang terakhir ini tampaknya bisa menjadi fenomena yang pelik sekaligus sederhana yang melanda semua umat yang mengaku manusia.
Saya sendiri, menulis tulisan ini dengan persepsi bahwa saya termasuk golongan yang sederhana dalam menghadapi proses satu-dua terakhir diatas. Pertemuan-perpisahan. Namun tepat pada saat saya menulis kalimat yang ini, saya sendiri menyadari bahwa bukan, saya malah bukan golongan yang sederhana. Tulisan ini merupakan konfesi alam bahwa sadar bahwa saya sendiri menjadikan pertemuan-perpisahan sebagai sesuatu yang.. Pelik.
Baru kemarin malam saya mengobrol ringan dengan salah satu teman (baru) mengenai pertemuan-perpisahan. Bahwa dirinya malas untuk memiliki hubungan yang terlalu-dalam lagi dengan seorang lawan jenis. Malas, adalah kata yang tepat menurut saya. Sama seperti kita malas mandi pada hari yang dingin, malas makan karena harus membelinya diluar, malas mengerjakan tugas. Malas, sesuatu yang tidak dilakukan hanya karena.. Tidak ingin? Padahal ketidak-inginan itu mungkin sebenarnya tidak sepadan dengan hasil yang didapat ketika sesuatu tersebut dilakukan (berlaku bagi kaum yang berpikir, dimana terkadang otak saya sendiri seringkali terlalu malu untuk menunjukan kebolehannya). Kemalasan tentang pertemuan-perpisahan ini timbul karena pada akhirnya selalu ada yang harus tersakiti-menyakiti. Entah itu karena ego semata, karena orang lain, karena apapun, tersakiti-menyakiti sepertinya merupakan hukum yang mutlak bagi sebuah pertemuan-perpisahan.
Deg.
Kemudian saya teringat pada kejadian personal tentang pertemuan-perpisahan. Ada sebagian orang yang tidak ingin memulai hubungan yang dalam dengan lawan jenis sebelum adanya pernikahan. Bagi saya mereka ini cukuplah cerdas, pernikahan membuat kesempatan untuk ditinggalkan-meninggalkan menjadi lebih sempit daripada sekedar hubungan yang dijalani dengan saling percaya tanpa ikatan apapun, kan. Meskipun ada juga yang semudah itu ditinggalkan-meninggalkan walaupun telah dalam ikatan pernikahan, itu hal yang lain. Prinsip ini juga muncul bersama ajaran agama. Menghindari sesuatu yang tidak halal, katanya. Ya, agama memang sifatnya mengamankan.
Namun deg yang muncul adalah karena selama ini saya hanya secara samar menyadari bahwa ada saatnya nanti saya yang menjadi (entah) pihak tersakiti atau menyakiti. Terlalu terbuai dengan kecocokan-kecocokan yang ada, dengan pertengkaran-pertengkaran kecil yang selalu berhasil dilewati, dengan senyuman-senyuman yang muncul sehabis kekesalan, saya-ternyata-terlalu naif dalam memandang bahwa apa yang saya jalani kini adalah berbeda dengan yang lain. Bukankah semua yang berpisah juga pada awalnya merasa bahwa mereka telah menemukan yang terbaik? Dapat dikatakan, jawabannya iya. Pemikiran yang muncul dalam waktu sepersekian detik ini kemudian bertahan berhari-hari sampai pada saat ini, sekitar tiga hari dari obrolan kemarin malam.
Saya tidak hendak membahas lebih lanjut mengenai kemalasan seorang teman saya dalam memulai hubungan yang dalam dengan lawan jenis, mungkin saya akan menulisnya di kesempatan lain, atau mungkin tidak samasekali. Yang mengusik pikiran saya ialah saya sedang tidak diposisi dia yang sedang menghindar dari kata tersakiti-menyakiti. Saya termasuk dalam golongan yang telah terjebak di dalamnya. Yang mana yang lebih berbahaya? Saya tidak tahu.
Dengan memikirkan bagaimana rasanya ketika hubungan yang kini dijalankan tiba dalam berkesudahan, cukup membuat saya tarik nafas dalam. Memvisualisasikan lagu-lagu yang sedang sering diputar di radio, lagu yang saya kutip diatas, atau lagu-lagu lain yang menyiratkan keadaan pasca perpisahan, dapat membuat saya cukup berpikir. Untungnya berpikir kearah yang lebih memberi banyak kegunaan.
Terlanjur, saya terlanjur terjebak dalam pertemuan maka baiknya saya pergunakan kesempatan ini dengan maksimal sebelum tiba saatnya perpisahan. Bahwa nanti pun ketika pasca berkesudahan, saya akan bangga bahwa saya pernah mengenal seorang manusia sedalam ini, bukankah hal tersebut perlu diapresiasi? Termasuk prestasi, tidak semua orang bersedia memahami dan dipahami, kan. Bahwa nanti pun ketika segalanya tidak berjalan seperti yang diinginkan, saya pernah menjadi manusia yang dijanjikan yang baik-baik tentang masa depan. Sebagian orang disana bahkan sulit untuk memulai, maka tahap dijanjikan ini semestinya menjadi yang perlu diingat dengan senyum, kan. Bahwa yang namanya hidup adalah tentang berjalan ke depan.
Nah, maka benarlah yang saya bilang bahwa tulisan ini sebenar-benarnya adalah wujud ketakutan, atau tiket bagi saya untuk masuk dalam kaum yang pelik dalam menghadapi pertemuan-perpisahan.
But even the sun sets in paradise.
Selamat malam.
The happy endings are subtle and incomplete but they are there, it works because happiness itself is often subtle and incomplete.
20120625
Encourage
Hello there,
don't worry if you have no money to buy many 'cool' things.
Don't worry if you didn't have a beautiful face like in the television you see, sharp nose, white skin, or a big blue eyes.
Don't worry if your body didn't seen as skinny as compilation of bones and skin. Maybe a flappy belly, or any flappy else that makes you hard to be a models catwalk.
Don't worry,
I'm a living prove that those things didn't matter in finding a man who loves you.
You only have to be focus being the truly you.
Or am I just that lucky?
Sweetness Overload
Saya jadi teringat kata-kata Mama dulu saat saya dan Hamdan baru menikah. Pencapaian apapun setelah berumah tangga bukanlah pencapaian suami atau istri sendiri, melainkan pasti pencapaian bersama. Jika salah seorang di antaranya sukses berkarya, misalnya, maka sesungguhnya itu adalah karya berdua. Pun jika salah seorang di antaranya lulus S3, maka sebenarnya gelar doktor itu milik keduanya! Dan sekarang saya pun baru benar-benar merasakan maksud kata-kata Mama itu. Subhanallah, alhamdulillah :)Taken from the-very-inspiring's blog (who is come from her hiatus of blogging life!)
No(r) way
You know how I love biking, don't you? I gotta make myself biking there.
Cold coast, plentiful magnificent scenery such as in the hanging-on-the-wall-calendar you have, nice place for them who are big fans of solitude.
Picture taken from: Giannis Messinis Gallery
20120617
Hari Ayah?
Adalah hari yang tidak beda dari hari-hari lainnya.
Mungkin memang aku yang bukan tipe orang okasional.
Tapi mungkin khusus untuk hari ayah yang ke sembilan belas tahunnya ada, aku ingin menulis satu saja.
Tidak perlu lagi mungkin untuk membahas betapa dirinya berpengaruh pada diriku sekarang.
Sama saja seperti membahas langit siang yang berwarna biru. Kutub utara yang dingin. Jakarta yang padat. Sudah jelas.
Malah derajatnya bukan lagi sekedar pengaruh. Jika dikonsepsikan manusia sebagai kumpulan dari persepsi, maka lima puluh persen diriku adalah cara ayahku menjalani hidup.
Maka jika diriku terlihat begitu plegmatis dan tidak senang dengan konflik. Beliau juga begitu. Sejak lahir hingga sekarang, turun naik kehidupan dari punya rumah gedongan rumah biasa hingga yang sempit, aku tidak pernah dengar ayah sekalipun meluap-luap dengan emosinya. Aku tidak pernah sekalipun mendengar teriakannya pada ibu, atau pada anak-anaknya termasuk aku.
Apapun kesulitannya, aku tidak pernah liat beliau harus melepaskan emosinya didepan kita semua, didepanku.
Maka dari situ aku belajar untuk mengenal yang namanya pengendalian diri. Bahwa yang kuhadapi hingga kini adalah belum seberapa dibanding apa yang telah beliau hadapi.
Beliau sukanya berolahraga dan tidak begitu senang makan banyak. Tidak begitu senang menghabiskan uangnya pada makanan-makanan over-prices. Berapapun lebih banyak dikeluarkan untuk perlengkapan olahraganya. Harga sepedanya bisa membuat ibu cemberut. Belum perlengkapannya yang lain.
Suatu pagi aku pernah terkejut dapat panggilan dari UGD rumah sakit Borromeus di Bandung. Ternyata itu ayahku yang pingsan dijalanan. Selagi bersepeda.
Beliau pantang menyerah. Tapi juga kadang melampaui batas kemampuannya.Untungnya setelah diopname sebentar dia kembali tertawa dan terlihat baik-baik saja.
Beliau tidak ingin dipekerjakan dibawah orang lain. Dibalik plegmatisnya terdapat juga keras kepala yang langka. Bahwa beliau inginnya menjadi lapang pekerjaan bagi yang lain.
Pada masanya aku pernah punya banyak karyawan. Ketika aku mampir aku ingat mereka semua menyambutku dengan baik. Satu yang bertugas mengantarku ke sekolah, rambutnya keriting dan badannya kurus. Aku tidak tahu ia dimana sekarang. Satu yang menemaniku dirumah ketika semuanya pergi juga rambutnya keriting, kulitnya hitam manis, ia perempuan. Yang selalu bilang aku harus makan dulu sebelum ditiupkan balon yang bisa diisi air untuk kemudian aku main air dihalaman belakang. Lalu yang kuingat adalah pergi bersama mereka ke Pangandaran. Ayah menyewa satu entah dua bis aku tidak ingat, untuk membawa mereka semua ke pantai. Disana aku bermain-main bersama anak-anak karyawan, tidak ada bedanya antara aku dan mereka. Yang ada hanyalah aku lebih beruntung mungkin. Yang kuingat lagi adalah ayah memberi banyak orang tempat bekerja dan juga kekeluargaan. Maka yang paling kuingat, lagi, adalah ketika semuanya pergi dan hidupku juga berubah tidak perlahan.
Aku tidak pernah bermasalah dengan sekian perubahan, pindah dari rumah ke rumah, dari satu keadaan ke keadaan lain. Karena aku tahu aku pernah amat sangat beruntung. Bahwa ayah telah memberikan pondasi untukku kemudian menjalani hidupku dengan siapapun nanti. Bahwa apapun yang terjadi, aku harus tetap mempertahankan keluarga. Bahwa apapun yang terjadi, tidak mungkin tidak ada yang tidak bisa dihadapi.
Maka pada hari ayah ini mungkin cukuplah aku meracau kesana-kemari.
Selamat hari ayah, para ayah yang membaca atau pun para calon ayah atau para ayah yang kabur dari kodratnya.
Mungkin memang aku yang bukan tipe orang okasional.
Tapi mungkin khusus untuk hari ayah yang ke sembilan belas tahunnya ada, aku ingin menulis satu saja.
Tidak perlu lagi mungkin untuk membahas betapa dirinya berpengaruh pada diriku sekarang.
Sama saja seperti membahas langit siang yang berwarna biru. Kutub utara yang dingin. Jakarta yang padat. Sudah jelas.
Malah derajatnya bukan lagi sekedar pengaruh. Jika dikonsepsikan manusia sebagai kumpulan dari persepsi, maka lima puluh persen diriku adalah cara ayahku menjalani hidup.
Maka jika diriku terlihat begitu plegmatis dan tidak senang dengan konflik. Beliau juga begitu. Sejak lahir hingga sekarang, turun naik kehidupan dari punya rumah gedongan rumah biasa hingga yang sempit, aku tidak pernah dengar ayah sekalipun meluap-luap dengan emosinya. Aku tidak pernah sekalipun mendengar teriakannya pada ibu, atau pada anak-anaknya termasuk aku.
Apapun kesulitannya, aku tidak pernah liat beliau harus melepaskan emosinya didepan kita semua, didepanku.
Maka dari situ aku belajar untuk mengenal yang namanya pengendalian diri. Bahwa yang kuhadapi hingga kini adalah belum seberapa dibanding apa yang telah beliau hadapi.
Beliau sukanya berolahraga dan tidak begitu senang makan banyak. Tidak begitu senang menghabiskan uangnya pada makanan-makanan over-prices. Berapapun lebih banyak dikeluarkan untuk perlengkapan olahraganya. Harga sepedanya bisa membuat ibu cemberut. Belum perlengkapannya yang lain.
Suatu pagi aku pernah terkejut dapat panggilan dari UGD rumah sakit Borromeus di Bandung. Ternyata itu ayahku yang pingsan dijalanan. Selagi bersepeda.
Beliau pantang menyerah. Tapi juga kadang melampaui batas kemampuannya.Untungnya setelah diopname sebentar dia kembali tertawa dan terlihat baik-baik saja.
Beliau tidak ingin dipekerjakan dibawah orang lain. Dibalik plegmatisnya terdapat juga keras kepala yang langka. Bahwa beliau inginnya menjadi lapang pekerjaan bagi yang lain.
Pada masanya aku pernah punya banyak karyawan. Ketika aku mampir aku ingat mereka semua menyambutku dengan baik. Satu yang bertugas mengantarku ke sekolah, rambutnya keriting dan badannya kurus. Aku tidak tahu ia dimana sekarang. Satu yang menemaniku dirumah ketika semuanya pergi juga rambutnya keriting, kulitnya hitam manis, ia perempuan. Yang selalu bilang aku harus makan dulu sebelum ditiupkan balon yang bisa diisi air untuk kemudian aku main air dihalaman belakang. Lalu yang kuingat adalah pergi bersama mereka ke Pangandaran. Ayah menyewa satu entah dua bis aku tidak ingat, untuk membawa mereka semua ke pantai. Disana aku bermain-main bersama anak-anak karyawan, tidak ada bedanya antara aku dan mereka. Yang ada hanyalah aku lebih beruntung mungkin. Yang kuingat lagi adalah ayah memberi banyak orang tempat bekerja dan juga kekeluargaan. Maka yang paling kuingat, lagi, adalah ketika semuanya pergi dan hidupku juga berubah tidak perlahan.
Aku tidak pernah bermasalah dengan sekian perubahan, pindah dari rumah ke rumah, dari satu keadaan ke keadaan lain. Karena aku tahu aku pernah amat sangat beruntung. Bahwa ayah telah memberikan pondasi untukku kemudian menjalani hidupku dengan siapapun nanti. Bahwa apapun yang terjadi, aku harus tetap mempertahankan keluarga. Bahwa apapun yang terjadi, tidak mungkin tidak ada yang tidak bisa dihadapi.
Maka pada hari ayah ini mungkin cukuplah aku meracau kesana-kemari.
Selamat hari ayah, para ayah yang membaca atau pun para calon ayah atau para ayah yang kabur dari kodratnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
