sejumlah kebahagiaan menanti disisimu
mengejar-ngejarmu yang tak henti berlari darinya
menghancurkan benteng yang kau buat sendiri agar bahagia tak mampu menjamahmu
bahagia bisa bersedih
kamu tak juga mau menerimanya
bahagia hadir didepanmu
kau butakan matamu
bahagia membisikkan nyanyiannya
kau tulikan telingamu
bahagia merenguhkan deru nafasnya
kau tutup semua inderamu
bahagia memelukmu
kau menampiknya kasar dan maju lagi berlari
bahagia bisa sedih namun tak pernah kenal kata meninggalkan
bahagia bisa bersedih namun tak pernah kenal kata bosan
dia disitu terus
andai saja kau buka matahati mu
di sisimu..
The happy endings are subtle and incomplete but they are there, it works because happiness itself is often subtle and incomplete.
20090126
cantik
aku bisa saja melihatmu cantik,
ketika kulihat si cantik jelita itu buruk rupa
atau tidak ketika?
jika yang kau mau adalah aku jujur dari biasan cahaya yang ditangkap mata
dan kuartikan dengan kata yang kita percayai selama ini
ya, kau dapat jawaban yang kau inginkan
tapi matahari pun punya gerhana
kubus pun punya enam sisi
takkah kau ingin pahami itu?
ketika kulihat si cantik jelita itu buruk rupa
atau tidak ketika?
jika yang kau mau adalah aku jujur dari biasan cahaya yang ditangkap mata
dan kuartikan dengan kata yang kita percayai selama ini
ya, kau dapat jawaban yang kau inginkan
tapi matahari pun punya gerhana
kubus pun punya enam sisi
takkah kau ingin pahami itu?
memang aku yang mau(?)
gelap tandanya malam lalu aku mandi, memang aku yang mau(?)
termenung di dalam kamar mandi, tanpa berbusana dengan air yang mengalir di atas kepala
memang aku yang mau(?)
kupejamkan mata, memang aku yang mau
tangis kosong dan darah menstruasi yang mengalir ke pembuangan
memang aku yang mau(?)
kuusap busa lembut di dada yang sakit
di hati yang hampa udara
di kepala yang berjuta rasa
busa lembut, usapan lembut
lembut tak mengobati
angan terbang kesana kemari
kadang aku di awan
aku di gurun
aku di planet mars
aku disana
sampailah pada lembut yang menggigil
lembut yang keriput
lembut yang pucat pasi
lembut yang tak sadarkan diri
dan akhirnya kutemukan diri tetap disana sendiri
malam, darah menstruasi, dan lembut yang pucat pasi
memang aku yang mau(?)
termenung di dalam kamar mandi, tanpa berbusana dengan air yang mengalir di atas kepala
memang aku yang mau(?)
kupejamkan mata, memang aku yang mau
tangis kosong dan darah menstruasi yang mengalir ke pembuangan
memang aku yang mau(?)
kuusap busa lembut di dada yang sakit
di hati yang hampa udara
di kepala yang berjuta rasa
busa lembut, usapan lembut
lembut tak mengobati
angan terbang kesana kemari
kadang aku di awan
aku di gurun
aku di planet mars
aku disana
sampailah pada lembut yang menggigil
lembut yang keriput
lembut yang pucat pasi
lembut yang tak sadarkan diri
dan akhirnya kutemukan diri tetap disana sendiri
malam, darah menstruasi, dan lembut yang pucat pasi
memang aku yang mau(?)
aku suka cahaya dan gelap dalam komposisi yang saling menguntungkan
aku suka cahaya, tapi yang tak silau
aku suka gelap, tapi bukan yang pekat
aku suka remang
aku suka remang
saat hati ingin dilipur
saat menangis
saat galau
agar tak terlalu terlihat, tapi juga tak terlalu tidak terlihat
aku suka tersenyum simpul
bukan tertawa terbahak
atau bibir mengkerut masam
aku suka mengingat,
aku tak pernah bosan untuk mengingat
untuk mengingat yang pernah terjadi, dan mengingat apa yang belum pernah teringat
aku suka kebisingan dan kesunyian
juga dalam komposisi yang saling menguntungkan
agar tak memekakkan telinga, juga tidak bergidik merinding kesepian
aku suka keramaian
juga menikmati kesendirian
aku suka cahaya, tapi yang tak silau
aku suka gelap, tapi bukan yang pekat
aku suka remang
aku suka remang
saat hati ingin dilipur
saat menangis
saat galau
agar tak terlalu terlihat, tapi juga tak terlalu tidak terlihat
aku suka tersenyum simpul
bukan tertawa terbahak
atau bibir mengkerut masam
aku suka mengingat,
aku tak pernah bosan untuk mengingat
untuk mengingat yang pernah terjadi, dan mengingat apa yang belum pernah teringat
aku suka kebisingan dan kesunyian
juga dalam komposisi yang saling menguntungkan
agar tak memekakkan telinga, juga tidak bergidik merinding kesepian
aku suka keramaian
juga menikmati kesendirian
20081217
pertemuan itu
bertemu dengannya diperempatan pagi hari
bertatap muka
menatap wajahnya lekat-lekat sebelum kita berpisah lagi
miris hati melihat wajahnya begitu sayu, sendu
bukan menantang, seperti hatiku dulu yang sampai sering tertendang
melihat matanya menyiratkan begitu banyak luka, kepedihan
luka yang terjadi ketika tanpa aku disisinya
pedih yang diatasi ketika tanpa aku dihidupnya
memegang tangannya dan seketika mengalir hangat yang hebat
berisi sejuta kisah yang terlewat tanpa aku
bermakna rasa sayang terpendam yang menyakitkan
memeluk tubuhnya,
kaku
seakan dia tak pernah mengenal kata peluk
dingin dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun
embun mengalir dari mata
pertemuan ini sungguh menyesakkan dada
tak ada sepatah pun kata
dengan sendirinya aku dan dia pun ragu apakah ini benar nyata
dengan sendirinya aku dan dia tahu pertemuan ini bukan untuk dilanjutkan
dengan sendirinya aku dan dia tahu pertemuan ini hanya mengingatkan tentang perpisahan
melepaskan peluk
melepaskan genggaman tangan
mengusap embun itu sendiri-sendiri
lalu tersenyum
aku dan dia hanya tersenyum
entah untuk saling menguatkan
entah karena tak ada lagi yang bisa dilakukan
lalu kembali berjalan dari perempatan
dia ke arah selatan
aku ke timur
bertatap muka
menatap wajahnya lekat-lekat sebelum kita berpisah lagi
miris hati melihat wajahnya begitu sayu, sendu
bukan menantang, seperti hatiku dulu yang sampai sering tertendang
melihat matanya menyiratkan begitu banyak luka, kepedihan
luka yang terjadi ketika tanpa aku disisinya
pedih yang diatasi ketika tanpa aku dihidupnya
memegang tangannya dan seketika mengalir hangat yang hebat
berisi sejuta kisah yang terlewat tanpa aku
bermakna rasa sayang terpendam yang menyakitkan
memeluk tubuhnya,
kaku
seakan dia tak pernah mengenal kata peluk
dingin dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun
embun mengalir dari mata
pertemuan ini sungguh menyesakkan dada
tak ada sepatah pun kata
dengan sendirinya aku dan dia pun ragu apakah ini benar nyata
dengan sendirinya aku dan dia tahu pertemuan ini bukan untuk dilanjutkan
dengan sendirinya aku dan dia tahu pertemuan ini hanya mengingatkan tentang perpisahan
melepaskan peluk
melepaskan genggaman tangan
mengusap embun itu sendiri-sendiri
lalu tersenyum
aku dan dia hanya tersenyum
entah untuk saling menguatkan
entah karena tak ada lagi yang bisa dilakukan
lalu kembali berjalan dari perempatan
dia ke arah selatan
aku ke timur
Subscribe to:
Posts (Atom)