tentu saja saya seorang remaja dan butuh remaja lainnya untuk saling bercerita. maka, sungguh indahlah menjadi remaja. sungguh indahlah menjadi seorang yang berumur 16 sampai 17. sungguh indah menjadi kita. sungguh indah menjadi saya.
pada suatu sore saya mendengarkan sebuah cerita, yang mendebarkan hati dan membuka mata. yang mengajak berkelana untuk mendalaminya dan ya tuhan itu semua nyata.
sepertinya sanubari saya tersentak.
hanya itu.
kemudian saya sedikit lebih memahami sesuatu yang abstrak.
seperti saat jam pelajaran kedua disekolah saya memahami limit fungsi dan invers komposisi.
seperti saat bermain sepeda saya lebih memahami apa itu angin.
seperti saat meminum obat saya lebih memahami apa itu pahit.
kemudian saya menyadari betapa kecilnya saya, menyadari ketidakberdayaan saya tanpa kuasa tuhan.
apapun itu, semua manusia punya alasan atas semua kelakuannya. alasan itu bisa saja berada di alam bawah sadar, atau di alam sadar sehingga bisa diungkapkan.
saya tak bisa menghakimi seseorang atas sifat yang dia miliki, atau kekurangan yang dia miliki, atau kelebihan. karena semua itu merupakan ramuan kompleks yang tak bisa dengan mudah dihancurkan, diganti, diubah, dimusnahkan.
saya termenung ketika itu, saya pernah menyepelekan kepribadian oranglain yang secara kasat mata tak memiliki keunggulan terlihat. lalu merasa aman selama, masih ada orang yang seperti dia. padahal saya tak begitu mengenal, tak mengenal.
setelah cerita itu usai, saya ingin menangis. menangis karena rapuh ini begitu terasa, menangis karena kesombongan ini tak ada isinya. karena keangkuhan ini hanya akan bertahan sementara.
dan saya menanti dan mencari sentakan-sentakan lain untuk sanubari ini. agar pada saat umur saya mencapai kategori dewasa, saya sedikit lebih banyak memahami tentang sesuatu yang abstrak itu.
ya, abstrak.
The happy endings are subtle and incomplete but they are there, it works because happiness itself is often subtle and incomplete.
20090704
cuma bulan
aku ga mau jadi anak sulung, kaya aa, atau teteh, atau kakak, atau seperti januari.
aku ga mau jadi penonton, yang duduk, yang berdiri, yang memandang tv, atau seperti maret.
aku ga mau main petak umpet, jadi kucingnya, jadi yang nyumput, atau seperti februari.
aku ga mau kebanyakan makan, kemerkaan, kekenyangan, atau seperti juni.
aku ga mau menangis di terminal, banyak orang, banyak dagangan, banyak asap, atau seperti april.
aku ga mau bangun tidur terlalu siang, pusing, keduluan orang, ketinggalan, atau seperti november.
aku ga mau tertawa berlebihan, kelepasan, ria, atau seperti agustus.
aku ga mau terlalu lama di kamar mandi, keriput, lembab, sempit, atau seperti juli.
aku ga mau menyebrang di zebra cross, putih hitam, hitam putih, atau seperti mei.
aku ga mau pake payung sendirian, apalagi tanpa hujan, atau seperti oktober.
aku ga mau seperti september. aku bukan desember.
aku ga mau jadi penonton, yang duduk, yang berdiri, yang memandang tv, atau seperti maret.
aku ga mau main petak umpet, jadi kucingnya, jadi yang nyumput, atau seperti februari.
aku ga mau kebanyakan makan, kemerkaan, kekenyangan, atau seperti juni.
aku ga mau menangis di terminal, banyak orang, banyak dagangan, banyak asap, atau seperti april.
aku ga mau bangun tidur terlalu siang, pusing, keduluan orang, ketinggalan, atau seperti november.
aku ga mau tertawa berlebihan, kelepasan, ria, atau seperti agustus.
aku ga mau terlalu lama di kamar mandi, keriput, lembab, sempit, atau seperti juli.
aku ga mau menyebrang di zebra cross, putih hitam, hitam putih, atau seperti mei.
aku ga mau pake payung sendirian, apalagi tanpa hujan, atau seperti oktober.
aku ga mau seperti september. aku bukan desember.
20090619
remember nor forget
lupa, lupa. ingat, ingat.
mungkin seperti lirik sebuah lagu yang sedang in saat ini.
oh, tapi sungguh. saya masih penasaran.
kenapa saat saya lupa, saya tidak ingat saya lupa akan apa.
dan pada saat ingat, saya tetap tidak ingat apa yang sedang saya lupakan.
pada saat mecoba mengingat, saya hanya ingat apa yang saya ingat. ketika mencoba melupakan, saya terus mengingat apa yang akan saya lupakan.
kenapa ingat itu bisa dibuat. dan lupa itu tidak.
kenapa lupa itu tidak pernah bisa dibuat-buat.
kenapa ingat itu bisa diingatkan. dan lupa tidak bisa dilupakan.
mungkin seperti lirik sebuah lagu yang sedang in saat ini.
oh, tapi sungguh. saya masih penasaran.
kenapa saat saya lupa, saya tidak ingat saya lupa akan apa.
dan pada saat ingat, saya tetap tidak ingat apa yang sedang saya lupakan.
pada saat mecoba mengingat, saya hanya ingat apa yang saya ingat. ketika mencoba melupakan, saya terus mengingat apa yang akan saya lupakan.
kenapa ingat itu bisa dibuat. dan lupa itu tidak.
kenapa lupa itu tidak pernah bisa dibuat-buat.
kenapa ingat itu bisa diingatkan. dan lupa tidak bisa dilupakan.
saat tujuh
saat jam tujuh malam.
ketika biasanya aku belum ada dirumah, kini aku ada didalam dirumah.
saat jam tujuh malam.
ketika biasanya aku masih bersosialisasi dengan manusia, kini aku bersosialisasi dengan imaji.
saat jam tujuh malam.
ketika biasanya sakit perut itu tak tersisa, kini terasa.
saat jam tujuh malam.
ketika biasanya sedih itu tak terasa, kini teraba.
saat jam tujuh malam.
tumpukan kertas itu menegurku untuk kembali tenggelam dalam pekerjaan nyata.
saat jam tujuh malam.
ku nyanyikan lagu sambil mengetik agar tak teringat bahwa ini adalah jam tujuh malam.
saat lembar ketujuh.
ku terhenyak pada lembar yang telah kuketik beberapa menit lalu.
saat lembar ketujuh.
ku teringat pesan ibu agar tidak menanggalkan shalat lima waktu.
saat lembar ketujuh.
ketika biasanya ku telah terlelap sebelum lembar ketujuh.
saat lembar ketujuh.
tumpukan kertas itu menegurku untuk kembali tenggelam dalam pekerjaan lembar ketujuh.
saat lembar ketujuh.
ku nyanyikan lagu dan mengetik agar tak teringat bahwa ini baru lembar ketujuh.
saat jam tujuh pagi.
ku tak menyadari bahwa ini adalah jam tujuh pagi.
saat jam tujuh pagi.
ku menyadari bahwa aku belum bertemu manusia manapun sejak jam tujuh malam tadi.
saat jam tujuh pagi.
ku terhenyak pada lembar ke tujuh ratus tujuh puluh tujuh.
saat jam tujuh pagi.
ku dengar tubuhku berderak dan kepalaku berat.
saat jam tujuh lebih tujuh.
ku dengar nyanyian mimpi dalam suara sepi.
ketika biasanya aku belum ada dirumah, kini aku ada didalam dirumah.
saat jam tujuh malam.
ketika biasanya aku masih bersosialisasi dengan manusia, kini aku bersosialisasi dengan imaji.
saat jam tujuh malam.
ketika biasanya sakit perut itu tak tersisa, kini terasa.
saat jam tujuh malam.
ketika biasanya sedih itu tak terasa, kini teraba.
saat jam tujuh malam.
tumpukan kertas itu menegurku untuk kembali tenggelam dalam pekerjaan nyata.
saat jam tujuh malam.
ku nyanyikan lagu sambil mengetik agar tak teringat bahwa ini adalah jam tujuh malam.
saat lembar ketujuh.
ku terhenyak pada lembar yang telah kuketik beberapa menit lalu.
saat lembar ketujuh.
ku teringat pesan ibu agar tidak menanggalkan shalat lima waktu.
saat lembar ketujuh.
ketika biasanya ku telah terlelap sebelum lembar ketujuh.
saat lembar ketujuh.
tumpukan kertas itu menegurku untuk kembali tenggelam dalam pekerjaan lembar ketujuh.
saat lembar ketujuh.
ku nyanyikan lagu dan mengetik agar tak teringat bahwa ini baru lembar ketujuh.
saat jam tujuh pagi.
ku tak menyadari bahwa ini adalah jam tujuh pagi.
saat jam tujuh pagi.
ku menyadari bahwa aku belum bertemu manusia manapun sejak jam tujuh malam tadi.
saat jam tujuh pagi.
ku terhenyak pada lembar ke tujuh ratus tujuh puluh tujuh.
saat jam tujuh pagi.
ku dengar tubuhku berderak dan kepalaku berat.
saat jam tujuh lebih tujuh.
ku dengar nyanyian mimpi dalam suara sepi.
Subscribe to:
Posts (Atom)