cukup cukup, gua sudah cukup teracuni dengan glee dengan dvdnya dan dua album lagu yang terus diputar di handphone. ya ya sudah,
nanti saja 13 april episode yang baru. HAHA
The happy endings are subtle and incomplete but they are there, it works because happiness itself is often subtle and incomplete.
20100401
ingat
saat api sedang membara seperti ini, salah satu pertanyaan yang pasti muncul akhir-akhir ini adalah
kenapa mesti politik kenapa ga sastra indonesia.
untung, untung sekali. pernah menorehkan api politik pada sebentuk tulisan. bisa dibaca ulang. bisa tertepis pertanyaan-pertanyaan semacam itu.
dan ingat kata almarhum amih, "tong sok nurutkeun nafsu"
bener mih. tinggal pilah pilih nafsu mana nu teu diturutkeun dan nafsu mana nu kudu diperjuangkeun.
kenapa mesti politik kenapa ga sastra indonesia.
untung, untung sekali. pernah menorehkan api politik pada sebentuk tulisan. bisa dibaca ulang. bisa tertepis pertanyaan-pertanyaan semacam itu.
dan ingat kata almarhum amih, "tong sok nurutkeun nafsu"
bener mih. tinggal pilah pilih nafsu mana nu teu diturutkeun dan nafsu mana nu kudu diperjuangkeun.
apa sih
apa sih yang sudah saya tulis?
apa sih yang sedang saya tulis ini?
tidak menyebabkan kematian tapi membuat pegal sendi-sendi memori
iya apalah itu selalu berkaitan dengan memori, memoar
ini puisi atau cerita pendek saja saya tidak tahu
ini ada yang baca atau tidak saja saya makin tidak tahu
ini selesai ditulis atau tidak saja saya apalagi, tidak tahu
karena saya selalu saja begitu
kamu yang tidak tahu saya sudah pergi saja ke sudut sana
kamu yang merasa tahu saya tetap disini dan perasaan itu lama-lama menjadi tidak benar untuk dirasa
ini bukan secarik indah yang kemudian kamu kagumi atau aku banggakan
bukan juga sampah karena siapa bilang ini pernah berguna. sampah itu sesuatu yang pernah berguna lalu sudah kehilangan gunanya kan
ini cuma gumaman demam di malam hari, cuma racauan di nyeri bulan purnama
apa tadi, gumam?
iya daripada kata-kata jelas yang dikeluarkan. ribut.
gumaman adalah oasis di gurun pasir.
meracau juga penting untuk menjaga kewarasan.
bukannya penemuan-penemuan yang merubah sejarah itu muncul dari seseorang yang bisa mendengarkan bukan yang selalu bicara
iya dari mereka yang berpikir lebih dalam dan bicara lebih sedikit
jadi keinget, may this special moment become one way for you to be grateful to Allah for your wonderful life. may it become a start for you to grow as a woman, not girl anymore. may you cold learn to give not to get, to love not to be loved and let the universe works for you. be grateful, be mature, be genuine.
kata-kata itu yang ada pada ulangtaun ketujuhbelas kemaren. mau seneng gimana sedih juga ga baik
as a woman, not a girl anymore. to give not to get. to love not to be loved. yakin saya berapa liter lagi airmata yang jatuh dari memperjuangkan makna kata-kata itu.
be mature, maksudnya dewasalah nyet. dewasa itu ya yang begitu itu, yang butuh banyak pengorbanan.
kamu pikir dewasa adalah yang berantem gara-gara males nyuci piring kotor?
apa sih yang sedang saya tulis ini?
apa sih yang sedang saya tulis ini?
tidak menyebabkan kematian tapi membuat pegal sendi-sendi memori
iya apalah itu selalu berkaitan dengan memori, memoar
ini puisi atau cerita pendek saja saya tidak tahu
ini ada yang baca atau tidak saja saya makin tidak tahu
ini selesai ditulis atau tidak saja saya apalagi, tidak tahu
karena saya selalu saja begitu
kamu yang tidak tahu saya sudah pergi saja ke sudut sana
kamu yang merasa tahu saya tetap disini dan perasaan itu lama-lama menjadi tidak benar untuk dirasa
ini bukan secarik indah yang kemudian kamu kagumi atau aku banggakan
bukan juga sampah karena siapa bilang ini pernah berguna. sampah itu sesuatu yang pernah berguna lalu sudah kehilangan gunanya kan
ini cuma gumaman demam di malam hari, cuma racauan di nyeri bulan purnama
apa tadi, gumam?
iya daripada kata-kata jelas yang dikeluarkan. ribut.
gumaman adalah oasis di gurun pasir.
meracau juga penting untuk menjaga kewarasan.
bukannya penemuan-penemuan yang merubah sejarah itu muncul dari seseorang yang bisa mendengarkan bukan yang selalu bicara
iya dari mereka yang berpikir lebih dalam dan bicara lebih sedikit
jadi keinget, may this special moment become one way for you to be grateful to Allah for your wonderful life. may it become a start for you to grow as a woman, not girl anymore. may you cold learn to give not to get, to love not to be loved and let the universe works for you. be grateful, be mature, be genuine.
kata-kata itu yang ada pada ulangtaun ketujuhbelas kemaren. mau seneng gimana sedih juga ga baik
as a woman, not a girl anymore. to give not to get. to love not to be loved. yakin saya berapa liter lagi airmata yang jatuh dari memperjuangkan makna kata-kata itu.
be mature, maksudnya dewasalah nyet. dewasa itu ya yang begitu itu, yang butuh banyak pengorbanan.
kamu pikir dewasa adalah yang berantem gara-gara males nyuci piring kotor?
apa sih yang sedang saya tulis ini?
ada pada
kebencianku ada pada lelahku
aku benci ketika aku mulai lelah.
yang jika ketika aku ingin merobek malam dengan pisauku, energiku habis sebelum bulan bulat sempurna. yang seperti itu yang aku benci.
jiwaku merindu pada malam yang dingin. tapi tubuhku selalu berontak. dia berteriak-teriak. memanggil pemadam. pemadam api yang membakar bangunku. sampai ia tersenyum. melihat jiwaku dipaksa tidur. menanglah dia.
atau ketika mataku melebar ingin menangkap suasana, telingaku menyadap sumber-sumber suara, tubuhku bilang cukup, sudah itu siang hari tadi. jiwaku bilang tidak, tidak! tidak cukup. belum cukup. aku ini bukannya lahir tahun kemarin. aku butuh lebih banyak suara suasana, aku pikir aku butuh lebih banyak yang seperti itu. tapi ia bilang cukup. menanglah dia.
tapi sesekali kebencianku luruh, jiwaku menang. api itu menyala sampai ada fajar. mataku puas. tapi esoknya tubuhku memanggil pemadam lagi, memadamkan bangunku sampai ke siang hari.
aku benci lelah.
aku benci ketika aku mulai lelah.
yang jika ketika aku ingin merobek malam dengan pisauku, energiku habis sebelum bulan bulat sempurna. yang seperti itu yang aku benci.
jiwaku merindu pada malam yang dingin. tapi tubuhku selalu berontak. dia berteriak-teriak. memanggil pemadam. pemadam api yang membakar bangunku. sampai ia tersenyum. melihat jiwaku dipaksa tidur. menanglah dia.
atau ketika mataku melebar ingin menangkap suasana, telingaku menyadap sumber-sumber suara, tubuhku bilang cukup, sudah itu siang hari tadi. jiwaku bilang tidak, tidak! tidak cukup. belum cukup. aku ini bukannya lahir tahun kemarin. aku butuh lebih banyak suara suasana, aku pikir aku butuh lebih banyak yang seperti itu. tapi ia bilang cukup. menanglah dia.
tapi sesekali kebencianku luruh, jiwaku menang. api itu menyala sampai ada fajar. mataku puas. tapi esoknya tubuhku memanggil pemadam lagi, memadamkan bangunku sampai ke siang hari.
aku benci lelah.
horrible
pasti pernah kan nanya, kenapa ya gua ga kaya gini? kenapa ya gua ga punya ini? kenapa ya bukan gua yang punya itu?
kalo ga pernah yaudah sukur tapi ini gua lagi bertanya-tanya nih.
lagi dengerin lagu kan, otomatis sambil nyanyi dong. tapi kemudian gua sadar. kalo lagunya dimatiin, gua ga tahan denger suara gua sendiri. set dah udah mah ga bagus, nadanya kemana-mana lagi, loose control gitu banyak dahak dan ingus. horrible.
kemudian terpikir lah, kenapaa suara gua ga kaya yang lagi gua dengerin di headset ini. kalo suara gua kaya gitu, gua ga akan pernah ragu nelepon orang-orang ditengah malam untuk nyanyiin happy birthday, atau nyanyiin orang-orang biar senang atau bahkan cari duit lewat suara. kenapa hayo? jangan coba-coba jawab lah, cuma Tuhan yang tau.
lagi ngenet kan, otomatis sambil membuka mata lebar-lebar pada dunia dong. tapi kemudian gua sadar. gua lahir di negeri tropis dua musim yang bikin malas ini sekaligus negara bekas rebutan seluruh dunia yang sekarang beritanya hampir selalu tentang kegagalan, korupsi, dan pemimpin-pemimpin yang berdusta. horrible.
kemudian terpikir lah, kenapaa gua ga lahir di negara maju di negeri empat musim. kalo kaya gitu kan diri gua bisa lebih kuat dan produktif dan ga pernah penasaran sama salju dan lebih bisa menjangkau dunia. kenapa hayo? tolong jangan dijawab, cuma Tuhan yang tau.
lagi baca kan, kata-kata si penulis bagus deh, menghipnotis. tapi kemudian gua sadar. gua dan sekuat tenaga gua belum pernah menghasilkan kalimat-kalimat se menghipnotis itu. banyak produk tapi ga ada yang sempurna. horrible.
kemudian terpikir lah, kenapaa gua ga dikasih kemampuan lebih untuk menyerap sisi positif dari semua kejadian semua momen jadi yang gua tulis ga bikin oranglain stress. kenapa hayo? udah ga usah dijawab, cuma Tuhan yang tau.
gua ga pengen jawab, yang jadi hasil setelah gua berpikir sejenak adalah. kalo gua liatnya kaya gitu, semua hal juga jadinya horrible.
suara bagus gua, negeri empat musim, bakat nulis. coba, bisa ga nyari hal apa yang bisa bikin ketiga-tiganya itu jadi horrible?
gua sih bisa.
jadi yang menyeramkan itu sebenernya gua ya.
kalo ga pernah yaudah sukur tapi ini gua lagi bertanya-tanya nih.
lagi dengerin lagu kan, otomatis sambil nyanyi dong. tapi kemudian gua sadar. kalo lagunya dimatiin, gua ga tahan denger suara gua sendiri. set dah udah mah ga bagus, nadanya kemana-mana lagi, loose control gitu banyak dahak dan ingus. horrible.
kemudian terpikir lah, kenapaa suara gua ga kaya yang lagi gua dengerin di headset ini. kalo suara gua kaya gitu, gua ga akan pernah ragu nelepon orang-orang ditengah malam untuk nyanyiin happy birthday, atau nyanyiin orang-orang biar senang atau bahkan cari duit lewat suara. kenapa hayo? jangan coba-coba jawab lah, cuma Tuhan yang tau.
lagi ngenet kan, otomatis sambil membuka mata lebar-lebar pada dunia dong. tapi kemudian gua sadar. gua lahir di negeri tropis dua musim yang bikin malas ini sekaligus negara bekas rebutan seluruh dunia yang sekarang beritanya hampir selalu tentang kegagalan, korupsi, dan pemimpin-pemimpin yang berdusta. horrible.
kemudian terpikir lah, kenapaa gua ga lahir di negara maju di negeri empat musim. kalo kaya gitu kan diri gua bisa lebih kuat dan produktif dan ga pernah penasaran sama salju dan lebih bisa menjangkau dunia. kenapa hayo? tolong jangan dijawab, cuma Tuhan yang tau.
lagi baca kan, kata-kata si penulis bagus deh, menghipnotis. tapi kemudian gua sadar. gua dan sekuat tenaga gua belum pernah menghasilkan kalimat-kalimat se menghipnotis itu. banyak produk tapi ga ada yang sempurna. horrible.
kemudian terpikir lah, kenapaa gua ga dikasih kemampuan lebih untuk menyerap sisi positif dari semua kejadian semua momen jadi yang gua tulis ga bikin oranglain stress. kenapa hayo? udah ga usah dijawab, cuma Tuhan yang tau.
gua ga pengen jawab, yang jadi hasil setelah gua berpikir sejenak adalah. kalo gua liatnya kaya gitu, semua hal juga jadinya horrible.
suara bagus gua, negeri empat musim, bakat nulis. coba, bisa ga nyari hal apa yang bisa bikin ketiga-tiganya itu jadi horrible?
gua sih bisa.
jadi yang menyeramkan itu sebenernya gua ya.
Subscribe to:
Posts (Atom)